Minggu, 04 Januari 2015

Bersyukur Selalu

Saat liburan sekolah, seorang penjaga di sebuah sekolah merasa heran karena setiap sore ada seseorang yang memainkan piano di ruang musik. Penjaga sekolah itu merasa bila selama ini dirinya tidak pernah mendengarkan permainan piano yang luar biasa.

Rasa penasaran mendorongnya untuk mengintip dari balik pintu ruang musik. Betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang anak perempuan berpakaian compang-camping sedang memainkan piano. Saat mendekat, penjaga sekolah itu hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Anak perempuan itu memainkan piano hanya dengan beberapa jarinya saja, karena jari-jari yang lain tidak dapat berkembang dengan sempurna.

Kehidupan kita juga terkadang tidak sesempurna seperti apa yang kita inginkan. Ada beberapa hal yang membuat kita kecewa sehingga kehidupan kita terasa timpang. Jangan pernah memikirkan hal-hal yang telah berlalu. Jangan hanya memandang pada kesakitan yang kita alami.

Mari, mainkan kehidupan ini dengan indah. Bersyukurlah dengan apa yang kita miliki saat ini. Jadikan kehidupan kita menjadi lebih berarti di harapan Tuhan. Jangan pernah berhenti untuk berharap karena Tuhan akan menolong kita.

Kamis, 01 Januari 2015

Seandainya Saja

Alkisah, dua orang gelandangan sedang duduk bercengkerama di sudut jalan. Gelandangan yang pertama mengatakan, “Hidup ini memang susah, tapi seandainya saja aku punya uang satu juta rupiah, pasti hidupku bahagia.”

Ternyata obrolan itu didengar oleh seorang jutawan yang kebetulan lewat. Maka ia pun bertanya, “Maaf, saya tadi mendengar Anda berkata bahwa hidup Anda akan bahagia jika Anda memiliki uang satu juta rupiah?”

“Benar sekali, Pak,” jawab gelandangan pertama.

“Baiklah, saya akan memberi Anda satu juta rupiah. Semoga Anda berbahagia,” kata jutawan itu lagi.

Setelah sang jutawan menyerahkan uang dan pergi, apa yang dikatakan gelandangan itu?

“Wah, seandainya saja aku tadi bilang sepuluh juta!”

Ada banyak kata “seandainya saja” menjadi kata favorit dalam kehidupan kita. Seandainya saja aku lahir di keluarga konglomerat yang kaya-raya dan sukses, seandainya saja aku punya keahlian, kekayaan, popularitas, seandainya saja aku seperti si A, si B, si C, dan seterusnya.

Benjamin Frannklin pernah mengatakan “Rasa “cukup” membuat orang miskin menjadi kata, tapi rasa “tidak cukup” membuat orang kaya menjadi miskin.”

Rasa cukup ditentukan dari bagaimana cara kita memandang dan menyikapi apa yang terjadi dan apa yang kita miliki. Bukan impian yang membuat kita bahagia, tapi rasa syukurlah yang menentukannya.